
edit data
Selamat Datang di Blog pribadi Untung Widodo, Salam Kenal Buat Anda Sekalian, Blog ini memuat data pribadi saya, untuk kepentingan silahturahmi antar saudara, kerabat, sejawat dimanapun berada. Bila anda merasa kenal dengan saya Silahkan menghubungi saya kapan saja melalui Blog ini atau email...barangkali anda benar orang yang saya rindukan selama ini,terima kasih atas kunjungan anda. Wassalam, Untung Widodo A.,ST,.MM Jakarta,

Saudara ku ! Pernahkah anda ikut penataran pranikah di KUA? Bagi yang sudah menikah pasti banyak yang mengatakan pernah, tapi ada juga yang mengatakan :” saya gak datang, saya titip saja sama pak petugas”. (Titip apaan, wong yang mau nikah kita kok yang penataran petugasnya?). Nah bagi yang belum menikah paling – paling bilang belum pernah. Dari sekian banyak pasangan yang akan menikah, bahkan yang sudah pacaran beberapa tahun ketika ditanya apa visi pernikahan anda? Tidak sedikit yang menjawab” ya mengalir aja”, walau beberapa pasangan akan mengatakan “ingin membentuk keluarga sakinah”.
Uniknya yang mengatakan ingin membentuk keluarga sakinah, banyak yang tidak bisa merinci bagaimana sich keluarga sakinah itu, atau minimal punya langkah – langkah untuk mencapainya. Jadi apa gara – gara di undangannya ada nukilan QS Ar Ruum yang ada kata sakinah’nya, sehingga jawabanya ingin sakinah?
Pantas di media massa saat ini banyak kita lihat perceraian terjadi disana – sini dan parahnya dipelopori para artis sebagai public figure. Alasannya bermacam – macam, dari sekedar tidak cocok, selingkuh, berzina, ekonomi, dijodohkan (orang tua atau murrobbi) dan lain sebagainya. Bahkan ada yang beralasan tidak ada cinta sejak pernikahan, padahal anaknya sekarang sudah belasan.
Dan data dari KUA Kota Palembang mengatakan bahwa dari 100% perceraian yang terjadi itu nggak ada 10% yang disebabkan oleh poligami atau dengan kata lain suaminya kawin lagi. So… bagi aktivis anti poligami (baca: agama) yang mengatakan poligami penyebab utama perceraian bisa mencermati data ini.
Menurut kebanyakan orang … semua perceraian itu terjadi karena tidak memiliki visi keluarga sakinah dan tidak tahu atau tidak komitmen dengan langkah untuk menggapainya. Dan ini tidak hanya dilakukan oleh orang yang pemahaman agamanya sedikit, tapi juga menghinggapi para aktivis dakwah dan harokah
1. Kupilih potret keluarga Rosulullah
Al Qur’an memang lengkap dan gak perlu ditambah – tambah lagi. Cari apa saja ada dech! Asal kita tidak lupa baca tafsirnya dan hadits – hadist yang berkaitan dengannya.
Nah dalam Al Qur’an itu sudah digambarkan potret – potret keluarga yang akan selalu hadir sampai bumi ini Qiyamat (Silahkan buka QS Al Lahab dan QS At Tahrim sebagai rujukannya). Apa saja potretnnya :
a. Potret Suami dan Istri yang kompak ingkarnya. Suami kafir dan istri juga kafir. ( bukan karena pepatah jawa Surgo Melu neroko Katut). Diantara banyak nominasi yang ada, potret ini di menangkan oleh keluarga Abu Lahab dan Istrinya. Padahal hidup semasa dengan Nabi Muhammad, bahkan pamannya lagi. Berapa banyak mukjizat yang ia saksikan tapi tetap tidak membuatnya beriman. Bahkan lebih giat mengumpulkan kayu bakar buat di neraka
b. Potret suami yang sholeh dan istri yang salah (ingkar). Bahkan bukan hanya istrinya saja, tetapi anak – anaknya juga kafir dan ingkar terhadap seruan fitrah islam. Potret ini akan kita temui pada sosok keluarga Nabi Nuh dan Nabi Luth. Bagaimana istri dan putranya Kan’an telah dijak masuk ke dalam kapal tapi menolak dengan alasan akan selamat di puncak gunung yang akhirnya tenggelam juga bersama kekafiran mereka. Pun istri Nabi Luth yang mengumpankan tamu – tamunya (malaikat) kepada masyarakat Homo di lingkungannya.
c. Potret istri yang sholehah dan suami yang salah (ingkar). Ingatlah akan kisah Nabi Musa as. Akan kita temui potret Fir’aun yang ingkar beristrikan Aisiyah yang dalam do’anya kepada Allah meminta dibuatkan rumah di Syurga. Dialah Aisiyah ibunda angkat Nabi Musa as, yang menarik keranjang bayi dari sungai Nil dan memohon kepada Fir’aun agar bayi laki – laki ini tidak dibunuh. Potret keluarga seperti ini banyak kita temui dewasa ini disekitar kita. Istri yang taat, beribadahnya bagus bahkan berjilbab lebar tapi bersuamikan lelaki yang muslim tapi malas sholat, bahkan kadang berjudi atau minum minuman keras .
d. Potret keluarga single parents. Keluarga yang hanya diisi oleh istri saja. Potret ini diwakili oleh Maryam ibunda Nabi Isa. Hal ini diakibatkan oleh ketentuan Allah, entah karena mukjizat seperti Maryam atau karena ditinggal mati suaminya. Dan sekali lagi bukan karena si wanita ini doyan berzina dengan satu atau banyak lelaki, kemudian tidak ada lelaki yang mau bertanggungjawab sebagai ayah si bayi kemudian ia membesarkan anaknya sendiri seperti para artis – artis mesum itu. Namun fenomena ini sekarang menyebar ke masyarakat umum akibat wabah pergaulan bebas muda – mudi dan remaja.
e. Potret keluarga ideal, keluarga sakinah, keluarga dakwah. Potret ini ada pada diri suri tauladan kita yang terbaik yaitu Rosulullah dengan Khadijah. Sang suami sholeh, sang istri juga sholeh. Saling mengisi dalam kebahagiaan dan penderitaan kehidupan dakwah Islam.
Nah, jika ingin keluarga kita sakinah maka ambilah potret keluarga yang kelima yaitu keluarga Rosulullah sebagai contoh untuk diikuti. Tentunya harus kaffah dalam mencontohnya, sehingga ketika kemaslahatan dakwah dan ummat mengharuskan suaminya berpoligami ya jangan terus istri pertama minta cerai .
2. Kulangkahkan kaki ini dengan basmallah
Setelah diketahui model keluarga sakinah yang diinginkan, maka saatnya kita untuk melangkah. Ya kalo diem saja kapan jalannya …
Maka mulailah melangkah. Prosedurnya adalah langkah pertama kita harus dengan Bismillah… karena nikah itu kan ibadah, dan amalan ibadah hanya akan diterima jika niatan kita untuk menggapai ridlo Allah, bukan yang lain (Ingat hadits tentang niat..).
Konsekuensinya adalah kita harus memilih pasangan kita yang bagus agamanya sebagai prioritas. Ya kalo ternyata sudah sholeh trus cantik/ganteng, trus kaya, trus pejabat terhormat de el el, maka anggap itu hanya ekses saja .
Sehingga ketika pasangan kita sudah mulai keriput tidak indah lagi ya gak papa wong masih sholeh/ah. Trus andai pasangan kita sekarang jadi miskin yo gak papa yang penting masih sholeh/ah. Atau ternyata ketika pasangan kita sudah jadi orang biasa ya juga ngak perlu risau wong dia masih sholeh/ah, gitu …
3. Kupinang engkau dengan hamdallah
Tafsiran kupinang engkau dengan hamdalah adalah kita harus siap dengan kekurangan dan kelebihan pasangan kita masing – masing. Ya kalo pas ta’aruf belum tahu kalo tidurnya ngorok (sekalian ngiler) trus nanti kalo dah seranjang seperti tidur dengan kereta ya harus ikhlas. Atau dulu pas belum nikah sering bikin tulisan atawa acara romantis (yang ternyata EO nya temenya sendiri) trus habis akad ternyata kaku dan jutek maka juga harus ikhlas. Intinya apapun kekurangan pasangan kita kita harus sabar.
Ingat, kisah seorang istri yang cantik dan masih mdua bersuamikan lelaki yang jelek, ketus, kasar dan tua. Si istri selalu berkata dalam hatinya bahwa pernikahannya dengan lelaki itu adalah tiketnya masuk syurga. Hal ini atas kesabaran yang di lakukan. Bayangin aja gimana gak sabar, punya suami jelek, kasar, ketus… tua lagi. Nah begitupun sang suami. Pernikahannya itu dia jadikan pula sebagai tiket masuk syurga. Hal ini karena kesyukuran yang selalu dia panjatkan. Bagaimana gak syukur, punya istri muda, cantik, sholeh, nrimo lagi. Nah ternyata KESABARAN dan KESYUKURAN dalam kisah tadilah implikasi dari hamdallah itu …
Kemudian konsekuensi dari hamdalah itu juga adalah kita tidak boleh mengharapkan balasan atas apa yang kita kerjakan. Jangan sekali kali sang suami mengatakan saya sudah capek banting tulang, peras keringat cari nafkah untuk istrinya trus pulang kerja kok gak dibikinin kopi. Atau sang istri pun mengatakan sudah capek nyuci, masak dan ngurusin anak kayak pembantu masak minta baju baru buat lebaran saja gak dikasih sich. So, janganlah apa yang telah kita lakukan kita ungkit – ungkit pas kita meminta sesuatu. Cobalah memusyawarahkan segala keperluan rumah tangga dengan baik tanpa mengungkit – ungkit pemberian.
4. Kusahkan ikatan ini dengan Akad Nikah
Ingat, sahnya akad nikah jika semua rukun nikahnya terpenuhi. Apa saja? Mempelai pria, mempelai wanita, wali, mahar, saksi dan ijab qobul.
Tentunya kalo salah satu rukun itu gak ada pasti gak sah. Nah, yang sering terjadi adalah permasalahan pada wali. Karena kedua mempelai sudah kadung cinta katanya, tetapi ayah si wanita gak setuju maka jadilah istilah kawin lari (pake wali hakim). Hati – hati, jika ayahnya muslim, waras, dan masih hidup jangan coba – coba untuk memakai wali hakim saat beliau gak setuju dengan pernikahan kita. Implikasinya adalah nikah kita tidak sah yang artinya kita berzina seumur hidup.
Kemudian jangan kesampingkan pencatatan di KUA. Nikah sirri memang sah secara agama tapi banyak kejadian keluarga akan kesulitan untuk mengurus hal administratif di kelurahan atau sekolah. Nah yang paling banyak dirugikan adalah pihak mempelai wanita dan anak – anak tentunya. Jangan sampai pas mendaftar sekolah, trus dimintai akte kelahiran kita jadi kelabakan. Karena untuk membuat akte kelahiran harus menyertakan fotokopi surat nikah. Tanpa surat nikah maka pada akte akan tertulis anak lahir di luar nikah, tanpa nama ayah disana .
5. Kulalui hari – hari pernikahan dengan laa haula wala quwwata ila billah
Sahabat. Bukalah mushofmu dan bacalah 2 ayat terakhir surat Al Baqoroh. Bahwasanya kita tidak akan dibebani dengan sesuatu yang kita tidak mampu. Jadi sepahit apapun derita yang saat ini kita lalui, maka Allah telah tetapkan bahwa kita pasti mampu untuk melaluinya. Maka ketika musibah datang kepada kita, maka kesabaranlah yang akan menjadi perisai kita untuk melaluinya. Jika ingin berkeluh kesah, maka bukan kepada teman, sahabat, orang tua, tetangga atau manusia manapun. Tapi kepada Allahlah engkau utarakan semuanya, curhatlah engkau pada-Nya. Tahajudlah sahabat …
Kemudian jika kebahagian, kemakmuran atau kegembiraan yang datang kepada kita. Maka ingatlah bahwa tanpa ijin dari Allah kita tidak akan dapat mendapatkannya. Sehingga tidak akan terlintas sedikitpun dalam dada kita ketakaburan, kesombongan dan ujub atas kesuksesan yang kita raih. Karena pada dasarnya kita hanya berusaha, dan Allah yang mengijabah do’a kita. Kita tak ada apa – apanya tanpa kehendak-Nya.
Sehingga disinilah nada kepasrahan kita dengungkan. Tiang tawakal kita tancapkan. Keikhlasan atas segala keputusan-Nya adalah pondasi atas apapun yang akan menimpa biduk rumah tangga kita kelak. Maka selalu ingatlah, tiada daya upaya tanpa ridlo dari Yang Maha Kuasa . . .
6. Kubimbing keluargaku dengan laa ilaa ha illallah
Terakhir sahabat. Ada tugas yang harus dipikul tiap keluarga. Suami adalah pemimpin bagi keluarganya, maka dia akan diminta pertangungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Istri adalah pemimpin bagi rumah tangganya, maka tiap jiwa akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Maka ajarkanlah keluargamu mengenal Allah. Bimbinglah mereka kepada fitrah manusia yaitu fitrah Islam.
Jika anak – anakmu lahir kelak. Hal pertama yang harus kau ajarkan adalah mengenal Allah. Yaa.. Ma’rifatullah. Bahwasanya tiada tuhan melainkan Allah. Dialah Dzat yang pantas untuk di sembah. Kepada-Nyalah bergantung segala sesuatu. Sehingga anak – anak kita kelak tidak akan takut dengan manusia – penguasa yang dzolim misalnya. Tidak akan terseret pada arus duniawi, kebebasan yang tanpa batas yang merusak dan fitnah – fitnah dunia lainnya.
Selanjutnya, jadikanlah keluargamu itu majelis ilmu. Utamakan ilmu agama terlebih dahulu baru ilmu dunia. Agar kita tidak menjadi orang pinter yang keblinger. Agar kita cerdas membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.
Insya Allah keluarga ini sakinah dan kelak akan masuk Jannah
Nah, jika keenam langkah itu kita lakukan. Maka dengan keijinan-Nya keluarga kita akan sakinah. Dan jika keluarga kita sakinah maka insyaAllah syurga adalah pelabuhan terakhir.
Bagi yang belum menikah, semoga langkah – langkah ini bermanfaat sebagai mainframe (panduan) rumah tanggamu kelak. Bagi yang sudah menikah, tidak perlu engkau mengulanginya dari awal (Masak suruh ta’aruf lagi, trus akad lagi). Cukup engkau instropeksi diri beberapa langkah yang telah lalu. Jika telah benar maka kuatkanlah. Jika belum maka perbaikilah.
Akhirnya, semoga rangkuman dari MABIT beberapa hari yang lalu bermanfaat bagi diri saya dan keluarga saya. Dan bermanfaat bagi para saudaraku sekalian. Wallahu ‘alam bish showwab.
Wassalam,
Mutsaqqoful Fikri
Citeureup-Bogor
Al-Qur'an dan Sunnah merupakan dua pusaka Rasulullah Saw yang harus selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim. Pribadi muslim yang dikehendaki oleh Al-Qur'an dan sunnah adalah pribadi yang shaleh, pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah Swt. Persepsi masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda, bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah, padahal itu hanyalah salah satu aspek yang harus lekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan Al-Qur'an dan sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim.
Bila disederhanakan, sekurang-kurangnya ada sepuluh profil atau ciri khas yang harus lekat pada pribadi muslim. 1. Salimul Aqidah Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam' (QS 6:162). Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da'wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid. 2. Shahihul Ibadah. Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: 'shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.' Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan. 3. Matinul Khuluq. Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw ditutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur'an, Allah berfirman yang artinya: 'Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung' (QS 68:4). 4. Qowiyyul Jismi. Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat.
Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya. Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: 'Mu'min yang kuat lebih aku cintai daripada mu'min yang lemah' (HR. Muslim). 5. Mutsaqqoful Fikri Intelek dalam berpikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur'an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: 'pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.' Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: 'Yang lebih dari keperluan.'
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219). Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu. Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: "Katakanlah: samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran" (QS 39:9). 6. Mujahadatul Linafsihi. Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatul linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk.
Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim). 7. Harishun Ala Waqtihi. Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur'an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya. Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: 'Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.'
Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk menjaga waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka di antara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sihat sebelum sakit, muda sebelum tua, lapang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin. 8. Munazhzhamun fi Syuunihi. Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur'an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. Dengan kata lain, suatu urusan dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya ilmu pengetahuan merupakan di antara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya. 9. Qodirun Alal Kasbi. Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan kendiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kekendirian dari segi ekonomi. Kerana itu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umrah, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur'an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi. Dalam kaitan menciptakan kekendirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, kerana rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan. 10. Nafi'un Lighoirihi.
Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksima mungkin untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir). Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits, sesuatu yang perlu kita serasikan pada diri kita masing-masing.
Wassalam,
Rizky Amalia,
Citeureup - Bogor
